Posted by: Denny H. Piliang on: Januari 8, 2009
GENERASI PEMBERANI 2009
GILIRAN YANG MUDA, YANG MERASA TUA MINGGIR DULU! GANTIAN!
MASA DEPAN MILIK KAMI……

PC310281
31 Desember 2008,Jam 9.00 pagi.
Berangkat dari Payobasung ke Harau, dengan sedikit kendala bahwa Soni tidak bisa berangkat sama – sama kita, karena masih ada urusan dikantornya.Soni bekerja dikantor camat Payakumbuh timur.Kita berangkat terlambat 1 jam dari rencana semula yaitu jam 8 pagi. Selain Soni yang mendapat halangan mendadak, juga masih ada beberapa teman yang masih mencari perlengkapan pagi itu. Mudah-mudahan untuk perjalanan selanjutnya, semua perlengkapan sudah siap sehari sebelumnya, dan semua perlengkapan sudah selesai di “ packing”malam sebelum berangkat, bukan pagi hari.


Nedi seperti cicak
Anggota team kita berjumlah 15 Orang, yaitu Soni “Gegu/ Gembel Gunung”( begitu panggilan akrabnya sesama pencinta alam) bertindak sebagai sebagai kordinator lapangan, Firman PM sebagai ketua panitia, Doan sebagai
bendahara, Beri mengurus perlengkapan, Angga yang mengatur masalah transportasi, dan anggota lainnya yaitu : Pesa, Radi,Pardi (Paredit), Yogi, Nedi, Datuek Itam Ipe, Datuek Adio Ipang, Datuek Ajo Denny dan Acin ( Teman Gegu yang membantu dalam pelaksanaan acara secara keseluruhan ) dan ada satu anggota team yang paling istimewa, paling luar biasa dan paling dahsyat!!! Yaitu Ahmad Kaldera, putra dari Soni Gegu yang masih berusia 4 tahun, anaknya berani, cerdas dan mandiri, sepanjang perjalanan yang penuh tantangan itu tidakpernah menangis sedikitpun, salut deh buat Ahmad, kapan-kapan kita jalan bareng lagi ya..Om banyak belajar lo dari Ahmad.

Dtk Adio ikut mencoba
Sampai di Harau sekitar jam 9.30.
Dengan mengaku sebagai anggota FPTI 50 Kota ( Forum Panjat Tebing Indonesia,disini Soni Gegu sebagai pembinanya), kami diizinkan masuk tanpa dipungut bayaran.Masuek perai..!!! Kami santai sejenak didekat air terjun, sebagian teman-teman ada yang berjalan-jalan sambil menunggu kedatangan Soni Gegu yang menyusul belakangan.Sekitar setengah jam kami disana, Gegu belum datang juga. Kami bergerak menuju arah penginapan Echo, karena didekat sana terlihat ada yang sedang panjat tebing. Ternyata asik juga menonton panjat tebing, bisa juga manusia merayap memanjat tebing setinggi dan seterjal itu. Kalau manusia punya kemauan, keberanian dan latihan terus menerus, apapun bisa dicapainya.Pada kesempatan ini, ada 3 orang ( Doan, Dtk Ipang dan Nedi) yang merasa tertantang untuk mencoba memanjat tebing, atau karena Gegu sudah datang dan kita semua harus segera melakukan pendakian.
Jam 11.30 perjalanan dimulai dengan menuju arah Sarasah Bunta mengikuti jalan aspal, semua penuh semangat dan Happy, terutama sikecil Ahmad sangat “hidup” sekali dalam perjalanan ini.Disebuah dataran yang agak lapang kami berhenti untuk “Packing” ulang, dimana semua barang-barang yang akan mengganggu perjalanan dan masih dijinjing tangan dimasukkan kedalam ransel yang masih agak lapang, kecuali gitar yang terpaksa harus dijinjing, dan ini menjadi sedikit mengganggu pada medan yang agak berat.Selesai “packing” kami membuat lingkaran dan berdoa yang dipimpin oleh Gegu untuk berserah diri total pada Yang Maha Kuasa.

Paradise on earth

Kami mulai masuk kedalam rimba, jalan mendaki dan mulai menelusuri tebing cadas.Perjalanan mendaki tebing dan menuruni lembah keluar masuk hutan serta beban dipunggung mulai membuat haus dan nafas tersengal-sengal, setelah berhenti untuk minum dan istirahat sejenak, kami terus mendaki melewati berbagai rintangan. Kami sampai pada air terjun dengan telaga kecil nan indah, kami terkejut melihat tempat sebagus itu, “ini belum apa-apa, ini baru adiknya,nanti kita akan kesana” kata Gegu. Hah!?..adiknya aja sudah bagus, gimana abangnya? Kita semua dibikin penasaran.
Setelah mengambil beberapa foto kami lanjutkan lagi pendakian kami menuju “Sarasah Luluih”.Pendakian menuju Sarasah luluih sangat memacu adrenalin, selain jalur yang terjal mendaki penuh rintangan yang membutuhkan konsentrasi serta kewaspadaan tinggi. Kadang harus merangkak dan merayap, kadang harus bergelayutan diakar untuk bisa naik keatas tebing. Kita dilatih untuk tabah dan tegar sampai ditujuan meskipun begitu banyak halangan dan cobaan, akhirnya setelah 4 jam berjuang habis-habisan dengan seluruh daya dan upaya, kita berhasil mencapai tujuan sementara Sarasah Luluih yang sangat mempesona..sebagian dari anggota team berteriak-teriak gembira setelah berhasil melalui perjuangan panjang dan melihat keindahan Sarasah Luluih yang sungguh mempesona.


Lokasi indah pertama
SARASAH LULUIH
Telaga jernih intan kemilau
Permata murni perawan rimba
Mengalir damai dicelah sunyi
Bernaung sendu diantara cadas yang cemburu
Tegak kaku berukir waktu
Gemuruh hening menggulung rindu
Gelorakan api cinta terpana
Permaisuri seribu duri
Dekaplah aku dalam sepimu.
Harau,old & new 09


Makan bajamba dalam goa
Kami sampai sekitar pukul 15.30.
Yang pertama dilakukan adalah menyiapkan tempat untuk tidur karena kami akan bermalam ditempat ini.Ada juga yang mulai memasak air untuk membuat minuman panas seperti kopi atau teh manis, hmmm…nikmat,sekalian mencoba mempraktekkan “kompor baru”..tapi ada yang langsung buka baju mandi ditelaga yang airnya sangat jernih dan dingin itu, siapa lagi kalau bukan si Ahmad yang tidak kenal kata dingin.
Kami makan bersama dan bajamba diatas plastik, semua bekal makan siang dikumpulkan jadi satu dan dimakan sama-sama, tapi ada yang curang…makannya belakangan sendirian, ups…sorry…lupa.Setelah makan ada yang mandi, ada yang membongkar ransel menyiapkan peralatan tidur dan lain-lain.


Ahmad Kaldera
Hari semakin malam, udara dingin dan gelap sudah datang.lampu-lampu dari botol minuman kesegaran yang diisi minyak tanah dan diberi sumbu kompor sudah dinyalakan, disusun disetiap sudut goa sehingga menjadi keindahan tersendiri. Api unggun juga sudah dinyalakan, semakin meriah saja.Selanjutnya menjelang tengah malam menyambut tahun baru 2009 kita mulai bernyanyi dan bergitar sambil mengelilingi api unggun,apalagi si Acin yang jago gitar dan banyak hafal lagu-lagu dan suaranya merdu pula, semua bergembira.Ada juga yang tidur-tiduran atau bermain sulap..hahaha..ternyata ada muridnya Dedi korbuse ikut naik gunung.
Bangun pagi suasana segar sekali,ada yang sedang mandi ditelaga, ada yang memasak air dan indomie untuk sarapan, ada juga yang masih menyanyi sambil memetik gitar sembari menghembuskan asap rokoknya, rokok hasil minta pula karena sudah kehabisan stok.Mudah-mudahan perjalanan yang akan datang kita lebih punya persiapan yang lebih matang.


Ada kejadian lucu pagi ini,dimana komandan kita Gegu belum bangun dari tidur tapi anggota lain sudah selesai packing bahkan sudah menyandang ransel, mau pada kemana pak? Belum ada aba-aba dari ketua kok sudah pada rapi ya? Hahaha…lain kali kita tunggu komando dulu.Banyak hal yang kita harus pelajari tentang hidup dialam.Untuk dapat kita praktekkan dalam keseharian kita.
Selanjutnya perjalanan kita teruskan menuju Goa kelelawar, perjalanan terus mendaki dan semakin terjal, tenaga sudah pulih lagi karena istirahat dan makan semalam.


Komandan regu


Bebas merdeka
Setelah mulai terbiasa melewati rintangan dan medan yang berat, kami sampai di Goa Kelelawar yang sungguh menakjubkan keindahannya.Goa yang sangat besar sekali dengan kedalaman dan gelap abadi penuh misteri, dindingnya dihiasi hijau lumut yang menawan hati dengan sungai mengalir dan telaga-telaga yang mengundang untuk diceburi.Buka baju dan….ceburrrrr…segarrrr…


Ini diatas gunung lo
Kami makan siang disini dengan menu dan resep gunung yang paling nikmat dan lezat.Kalau mau coba resep ini harus naik gunung dulu,karena gak ada restoran yang jual.Wakakak..hahaha kita semua betul-betul gembira dan bahagia.
Setelah selesai makan siang dan bergurau kita berangkat lagi untuk turun gunung dan kembali menuju Sarasah Bunta.Perjalanan menurun mempunyai tantangan dan kesulitan tersendiri.Kamipun membawa oleh-oleh berupa batu yang unik dan akar yang bentuknya artistik untuk kenang-kenangan, dan akan dipajang dikantor Karang Taruna.
Tanpa terasa, sekitar pukul 15.00 kami sudah sampai di Tempat wisata Sarasah Bunta, akhirnya kami melihat orang ramai lagi. Setelah acara rehat sejenak sambil minum kopi dan teh panas, mobil jemputan kami tiba sekitar pukul 16.30 dan kami pun pulang meninggalkan kesan yang mendalam di sanubari.Esok kami akan kembali…Terimakasih Gegu!..(daden09)

am2 Malam penuh cahaya
Bagi para pemberani….
Tunggu informasi tentang perjalanan dan pendakian selanjutnya !!!
“Hidup adalah soal keberanian,
Menghadapi yang tanda Tanya,
Tanpa kita bisa mengerti,
Maka terima dan hadapilah”
Soe Hok Gie
Posted by: SëRAK on: Januari 29, 2008
Posted by: SëRAK on: Januari 18, 2008
Kok ado dunsanak dan tibo di weblog iko, taragak Maota Lomak, pei lah ka Pajak Baran. Ndeh bak tu dek sajauh deh? Indak bagei deh… iko Pajak Baran nan diateh langik geh…
Ha… bak a caro eh?
Klik ajo gambar dibawa geh ah!
Selamat Maota… Bacarito! Kok Lei ado dunsanak lain nan sodang ON ken basobok kalorok deh! Ha, tapi jang lupo pulo kotu dek Maota, ma tau geh dek talampou lomak, yo ndak?
Posted by: SëRAK on: Desember 31, 2007
Pagi ini menjelang akhir tahun 2007 jalan agak sepi, karena ada Cuti Bersama. Namun banyak pedagang terompet berjualan. Mereka segaja datang untuk melengkapi kemeriahan Tahun warga Ibu Kota dengan Terompet. Harganya beragam, dari Rp. 1500.- hingga 15.000.- Ada yang berjualan dengan sepeda namun banyak yang berjalan kaki. Mengais rejeki dengan menjual terompet. Sebuah perjuangan untuk bertahan hidup.
Namun beda dengan Pluit milik pak Polisi. Dengan pluitnya, banyak sepeda motor, mobil dan bahkan bus kota berhenti melaju. Tanya sana tanya sini, cari-cari kesalahan. Namun dengan Rp. 10.000.- boleh jalan lagi. Bukankah “pluit” itu untuk menegakkan peraturan di jalan raya? Kok, demi selembar Cebanan sih, Pak?
Tet… teeet…….. eh… priiiiiiitttttttttttt……..! Selamat tahun baru pak? Ceban dulu, lah!
Powered by ScribeFire.
Posted by: SëRAK on: Desember 30, 2007
Bangga dengan menggeliatnya semangat blogger Minangkabau yang meluncurkan PALANTA. Sebagai blogger Minang, KoranBaran Online mengucapkan Selamat Berjuang kepada kru-kru Palanta.
Tidak hanya karena ada anak Nagari Payobasuang [AntonHilman] disitu, namun semangat berkumpul, semangat berbagi informasi itu yang kami banggakan.
Tancap Taruih…….., Gasssss………!!!
Posted by: noriko on: Desember 28, 2007
Bule aja inget kampung !!!
Posted by: noriko on: Desember 5, 2007
Entah kenapa akhir-akhir ini pikiran tidak bisa lepas dari keindahan dan kedamaian kampung halaman? Mungkin karena kemarin baru dari kampung, setelah sekian lama tidak pulang. Ternyata kampung kita ini sangat damai dan indah ini, jauh dari yang namanya kerusuhan, jauh dari yang namanya polusi dan ketenangan menggambarkan suatu kampung yang damai. Kampung yang sangat asri, terletak di sebelah timur kalau dalam peta kota Payakumbuh. Baca entri selengkapnya »
Posted by: SëRAK on: Nopember 15, 2007
Posted by: SëRAK on: Nopember 10, 2007
Maaf, karena sekemabali dari kampuang, baru ini yang dapat dilaporkan untuk dunsanak dimana saja berada. Laporan pandangan kamera. Bukan tanpa alasan, kadang-kadang kami berpikir satu gambar dapat mewakilik sejuta kata-kata.
Nikmati Foto-Foto di Kampuang dengan mengilik daftar LINK dibawah ini. Selamat memandang dan selamat terpesona.
Selain menikmati hasil jepretan kamera, tentu anda juga dapat memberikan komentar pada setiap foto (kalau mau)
Enjoy its!!!
Powered by ScribeFire.
Posted by: noriko on: September 10, 2007

Ooops, tapaso senyum dunsanak dikurangi sedikit. Talampau bona golak kok ba’a loh geh? Saya tahu dunsanak sodang golak-golak ketek, karena sedang membaca Koran Baran kan?
Koran “kecil” hasil kreasi dari beberapa kaum muda anak nagari Payobasuang, yang dengan setia nya selalu ingin memberi kabar, selalu ingin mengabari, selalu ingin menceritakan dan selalu ingin berbagi rasa dengan dunsanak-dunsanaknya yang lain. Dunsanak nun jauh di mata dan termasuk dunsanak yang lagi mambaca baran saat ini. Koran “kecil” kita ini yang diisi dengan “gurau-an” khas Payobasuang, membuka wawasan, sedikit “nakal” tapi kalau orang Jakarta bilang menggemaskan. Baca entri selengkapnya »
Celoteh Wargaku